Udara Banjarbaru Sudah Masuk Level Berbahaya

by -27 Views

BANJARBARU – Kualitas udara di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Rabu pagi (19/8/2026) berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 07.00 WITA dan masuk kategori Berbahaya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, mengatakan konsentrasi PM2.5 mulai meningkat sejak dini hari. Kondisi tersebut kemudian memburuk hingga mencapai level ekstrem pada pagi hari.

Konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WITA dan masuk kategori Berbahaya,” ujar Johannes.

Tingginya konsentrasi PM2.5 tersebut berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah terdampak. Kondisi atmosfer yang kering serta tidak adanya curah hujan dalam 24 jam terakhir turut membuat partikulat dan asap lebih mudah bertahan di udara.

BMKG mengklasifikasikan kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5. Kategori Baik berada pada angka 0–15,5 µg/m³, Sedang 15,6–55,4 µg/m³, Tidak Sehat 55,5–150,4 µg/m³, dan Sangat Tidak Sehat 150,5–250,4 µg/m³. Sementara konsentrasi di atas 250,5 µg/m³ masuk kategori Berbahaya.

Dengan angka mencapai 389,4 µg/m³, kualitas udara Banjarbaru pada pagi itu tercatat jauh melampaui batas kategori Berbahaya.

Kondisi cuaca kering juga terjadi secara merata di wilayah Kalimantan Selatan berdasarkan pemantauan curah hujan Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel pada 18 hingga 19 Agustus 2026.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan kualitas udara karena perubahan arah dan kecepatan angin serta potensi karhutla dapat menyebabkan kondisi berubah sewaktu-waktu.

Masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, warga dianjurkan menggunakan masker medis seperti N95 atau KN95.

Selain itu, masyarakat diminta menjaga kondisi tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat serta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat semakin memperburuk kualitas udara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *