Cinta Buta vs Benci Buta dan Cara Mengatasinya - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Wednesday, January 23, 2019

Cinta Buta vs Benci Buta dan Cara Mengatasinya

Kita sering mendengar istilah cinta buta, terutama di kalangan para pemuda yang sedang dimabuk cinta. Cinta buta membuat orang lupa atau lalai dengan logika dan nalar mereka. 
foto: segiempat.com
Fenomena pemilihan presiden di negeri kita banyak menyedot perhatian. Mulai dari politisi, praktisi, akademisi, para tokoh, masyarakat, para pemuda, emak-emak, bahkan di kalangan remaja dan anak-anak.

Tidak terkecuali bagi akademisi yang juga menjabat sebagai rektor UIN Antasari Banjarmasin, Mujiburrahman (Prof. Mujib). Beliau yang rutin setiap minggu mengisi kolom di harian Banjarmasin Post, yang sering membahas isu kekinian kini Beliau juga membahas terkait fenomena pilpres yang dimuat pada Senin, 21 Januari 2018 dengan mengangkat judul “Cinta Buta Politis”.

Dari tulisan ini, bagaimana Prof. Mujib mengisahkan fenomena cinta buta terhadap satu calon atau sepasang calon presiden dan wakil presiden. 

Di tahun politik ini, bagaimana kita disuguhkan kabar-kabar atau berita di berbagai media yang menggambarkan sosok orang yang mereka cintai atau kagumi. Di sisi lain, ada juga yang menggumbar kebencian terhadap calon lainnya. Baik dari hasil kinerja maupun kejadian masa lalu, program atau pernyataan yang mereka lontarkan.

Pujian, kekaguman, fitnah, maupun hal yang membingungkan lainnya menghiasi hari-hari kita, terutama yang sering bersendawa dengan media sosial. Tujuannya, tidak lain dan tidak bukan adalah memenangkan pertarungan dalam meraih tapuk kekauasaan tertinggi di negeri ini.

Hal ini bukan tanpa sebab. Sebab utamanya adalah “Cinta Buta” yang bisa mengalahkan nalar atau akal sehat kita. Cinta buta membuat kecintaan yang berlebihan, cinta yang berlebihan bisa juga menghadirkan kebencian yang akhirnya melahirkan “Benci Buta”.

Benci buta, tidak kalah berbahayanya dengan cinta buta. Dari kebencian bisa melahirkan kata “asal bukan” yang artinya siapapun boleh menjadi asal bukan orang yang dia benci, sehingga mengenyampingkan kualitas maupun program yang ditawarkan.

Cinta dan benci buta ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memuluskan ambisi mereka, menarik simpati dengan biaya yang jauh lebih murah.

Karena menurut Prof. Mujib cinta buta dan benci buta yang berlebihan akan membahayakan. Cinta buta dan benci buta itu akhirnya membuat orang tidak lagi melihat dunia sebagaimana adanya. Ukuran baik dan buruk, benar dan salah, sudah tidak berlaku lagi. Apapun yang dikatakan dan dilakukan sang idola adalah baik dan benar, dan apapun yang dikatakan dan dilakukan lawannya selalu buruk dan salah. Kebaikan seolah menyatu dalam diri sang idola dan kejahatan menyatu dalam diri lawannya.

Dari fenomena ini, saya mengetahui bahwa tidak hanya ada cinta buta tetapi juga ada benci buta. Lantas bagaimana kita bisa terhindar dari sikap cinta buta dan benci buta?

Sebagaiaman kata Prof. Mujib sikap yang tepat adalah posisi tengah antara dua sisi yang berlebihan itu. Inilah yang disebut moderat atau wasathiyyah.

“Cintailah kekasihmu sewajarnya. Boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci sewajarnya. Boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kaucintai,” kata Nabi.

Kemudian kita harus kembali dan berpegang kepada “pusat”. Pusat itu berada di tengah. Pusat itua dalah asal sekaligus arah. Matahari adalah pusat galaksi. Ka’bah adalah pusat ibadah. Hati nurani adalah pusat kesadaran. Nabi adalah pusat agama. Tuhan adalah pusat segalanya. Ketika pusat terlepas, maka orang terlempar keluar orbit, tak tentu arah.

Jangan menjadikan politisi sebagai pusat kita, karena dia adalah manusia biasa seperti kita. Namuan ia bisa menjadi pusat perhatian tidak pusat bergantung. Mulialah para politisi idola yang menjadi pusat perhatian yang tidak terlepas dari pusat kehidupan yang sejati.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad