IBX5A2DB0A16D0BC Orang “Elit” - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Friday, April 27, 2018

Orang “Elit”

Rony Raj

(Catatan Dari Tulisan Jendela B.Post Senin, 23 April 2018: Guru Itu Pekerja Plus)

Oleh : Rony Raj

Setelah lama tidak menulis di kolom Menengok Jendela, padahal niat sudah ada, keinginan juga selalu ada, namun halangan juga ada. 

Kali ini saya mencoba untuk menulis dari tulisan Mujiburrahman pada kolom Jendela Banjarmasin Post yang dimuat setiap hari Senin.

Dalam tulisan yang berjudul “Guru Itu Pekerja Plus” yang diterbitkan pada Senin, 23 April 2018 begitu menarik, namun ada beberapa sedikit janggalan.. hee

Seperti biasa, dengan gaya tulisan yang simpel tetapi penuh makna dan mendalam, serta sangat mudah dicerna dan enak untuk dibaca.

Dalam tulisan tersebut, saya langsung tertawa kala membaca “saya juga berasal dari keluarga elita alias ekonomi sulit”.

Seketika saya terkejut membaca kata “elit”, tapi ternayata itu cuma guyonan yang berarti “ekonomi sulit”. Sayapun merasa bagian dari orang “elit” tersebut, tapi mungkin tidak se-elit beliau dan juga tidak segigih beliau.

Kata “elit” alias ekonomi sulit dilontarkan sang Professor tatkala ia diundang dan berbicara di depan murid dan guru di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) dan Sekolah Indonesia Mekkah (SIM) di Saudi Arabia.

Sebelumnya, bagaimana Kepala Sekolah memperkenalkan sang Profesor dihadapan suluruh muridnya. “Bapak Mujiburrahman ini adalah Rektor UIN Antasari Banjarmasin. Ini kesempatan yang sangat baik. 

Jarang-jarang ada Rektor yang mau datang ke sekolah” itulah kutipan dari Sugiono, Kepala Sekolah SIJ.

Kalimat pengantar yang sederhana, namun diartikan Pak Rektor sebagai kalimat yang luar biasa, yang mengandung motivasi agar para siswanya mau mendengarkan apa yang disampaikan olehnya nanti.

Selain itu, Ia juga memposisikan dirinya sebagai Rektor yang tidak jauh berbeda dengan seorang Kepala Sekolah, atau bahkan sama seperti seorang guru, pendidik.

Beliau juga mengaku terharu dengan kerja keras Kepala Sekolah dan Guru yang mengajar di sana. Dimana, mereka tidak sekedar menjadi guru dan diberikan gajih, tapi lebih dari itu. Para murid di sana begitu senang belajar, bahkan Ia terkadang harus mematikan listrik agar para murid mau pulang. Pemandangan yang luar biasa dan jarang terjadi di banua kita.

Hal ini menunjukkan, “Guru Itu Pekerja Plus” artinya guru bukan sekedar pekerja, tetapi pendidik yang menanamkan ilmu, keterampilan, dan harapan masa depan bagi murid-muridnya. Pendidik harus lebih dari sekedar pencari kerja atau upah. Pendidik memiliki misi membentuk generasi yang lebih baik.

Di masa sekarang, tidak bisa kita pungkiri, tidak sedikit para guru hanya menjadikannya sebagai pekerjaan dan mencari upah belaka. Tidak sedikit pula, orang yang sekolah atau kuliah di jurusan pendidikan yang seharusnya menjadi guru, tetapi memilih untuk menjalani profesi lain yang jauh berbeda dari jalur akademik yang ditempuhnya.

Semoga ini menjadi renungan kita bersama, kita dapat terus memperbaiki kulaitas diri dan kehidupan kita. Para guru dapat terus bekerja keras dan ikhlas untuk mempersiapkan generasi bangsa untuk masa depan.

Bagi kita yang tidak bekerja sebagai seorang guru, juga dapat menjadi pendidik dengan berbagai profesi yang kita jalani, banyak media yang dapat kita manfaatkan untuk menjadi pendidik sejati yang memiliki misi membentuk generasi masa depan.

Namun, dari tluisan “Guru Itu Pekerja Plus” ada beberapa hal yang masih mengganjal, terutama terkait pertanyaan para murid SIJ kepada Pa Rektor. Mungkin, kalau dimuat jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah muat. Semoag dilain kesempatan dan dilain media, saya bisa mengetahui jawaban dari Pa Rektor. (wallahu’alam)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad