Smart City: Kemudahan Pelayanan dan Informasi - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Senin, 13 November 2017

Smart City: Kemudahan Pelayanan dan Informasi

Smart City: Kemudahan Pelayanan dan Informasi
Smart City: Kemudahan Pelayanan dan Informasi
Berbicara tentang smart city, bisa kita ibaratkan dengan smartphone atau ponsel pintar. Dengan smartphone “seolah-olah” apa yang kita mau, apa yang kita cari, semua ada. Kita mau tahu tentang ilmu agama, tata cara, mau cari tempat, maupun yang lainnya, tinggal kita ketik di smartphone, maka akan ada dihadapan kita tentang informasi yang kita butuhkan. 

Dengan smartphone juga kita tidak perlu repot-repot ke minimarket atau ke mall untuk berbelanja kebutuhan kita atau mau beli sesuatu, tinggal klik semua bisa dan bisa langsung diatar ke tempat tinggal kita.

Tidak mengherankan, di zaman sekarang smartphone bukan lagi barang mewah melainkan sebuah kebutuhan. Tukang ojek aja sekarang pakai smartphone, apalagi kita! Hal ini bisa dikatakan, yang dulunya tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Istilah “dunia dalam genggaman” sudah terjadi di zaman sekarang. 

Menurut saya, konsep smart city tidak jauh berbeda dengan konsep smartphone yang memberikan kemudahan, cepat, dan cermat. Konsep smart city juga tidak lepas dari upaya memberikan kemudahan kepada masyarakat. Kemudahan dalam pelayanan publik maupun kemudahan dalam mendapatkan informasi.

Bagi kota-kota besar di Indonesia, terutama ibukota provinsi, konsep smart city bukan lagi hal yang inovatif atau sebuah terobosan, melainkan suatu keharusan bagi setiap pemerintah kota untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakatnya.

Ada beberapa catatan dari saya untuk kota yang saat ini berupaya untuk menjadi smart city.  Saya saat ini tinggal di Kalimantan Selatan. Berbica tentang Kalimantan Selatan atau Kalsel, tidak lepas dari dua kota yang ada di dalamnya, yaitu Banjarmasin sebagai Ibu kotanya dan Kota Banjarbaru, serta Kota Martapura yang tidak jauh dari pusat kedua kota tersebut.

Dalam hal pelayanan publik atau pelayanan kepada masyarakat, ada beberapa pengalaman yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita, atau bisa sebagai aspirasi dalam mewujudkan smart city di kota kebanggaan kami.

Saya mulai pengalaman saya pada saat mengurus akta kelahiran anak pertama saya (sekitar tiga tahun yang lalu), saya dibuat 2 kali bolak-balik ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (di kota Martapura). Pertama saya harus balik karena isian formulir yang disediakan harus ditandatangani oleh Kepala Desa. Kemudian yang kedua karena ada selisih penulisan nama Isteri saya pada dokumen yang dilampirkan, jadi harus diperbaikai salah satunya dan kembali lagi.

Di sepanjang jalan pulang saya terus terpikir, kok hal sesimpel bisa jadi sulit bahkan harus bolak-balik, belum lagi jarak dari Desa ke Kota lebih dari 40 km, dibutuhkan 1 hari untuk mengurus urusan ini, yang artinya 1 hari kita harus ijin atau tidak bekerja.

Seharusnya hal ini bisa dihindari dan bisa mempermudah masyarakat. Caranya sangat mudah, terlebih di era modern seperti sekarang ini. Selain menyediakan formulir di bidan desa atau di kantor kepala desa, segala informasi dasar bisa dimuat di website yang saya yakin setiap SKPD pasti memiliki website. Bagaimana tata cara pembuatan akta atau dokumen lainnya dimuat di website, kemudian formulir yang harus diisi bisa diupload dan masyarakat bisa mendownloadnya.

Kemudian, permasalahan lainnya, sesuatu yang sederhana namun harus menjadi ribet dan membuat bigung. Adalah pelayanan di rumah sakit, kali ini Rumah Sakit Idaman Banjarbaru. Sewaktu saya ingin membawa anak saya berobat ke dokter spesialis gigi anak yang kebetulan hanya ada di RS Idaman Banjarbaru, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Banajrbaru dan sekitarnya.

Seperti biasa, sebelum mendaftar untuk rawat jalan kita mengambil nomor antrean. Setelah itu saya duduk untuk menunggu panggilan di depan loket. Setelah dipangil, petugas bingung dan dengan nada yang agak keras bertanya, “bapak sudah ke kasir?” hah! saya bingung, kenapa ke kasir? Sayapun pergi ke kasir. Ternyata sebelum mendaftar atau setelah mengambil nomor antrean kita harus ke kasir untuk bayar berobat sesuai tarif yang ditentukan, kemudian menunggu antrean di loket-loket. 

Kemudian, dikarenakan harus dilakukan perawatan gigi secara rutin, maka kami disarankan dokter untuk menggunakan BPJS. Hari berikutnya kami kembali lagi berobat, kali menggunakan BPJS. Berdasarkan pengalaman pertama, setelah mengambil nomor antrean saya ke kasir dengan menunjukkan kartu BPJS dan surat rujukan dari dokter keluarga. Eh ternyata, kasir menolak katanya kalau BPJS tidak ke kasir tapi langsung antri di loket, setelah itu baru ke loket BPJS untuk validasi klaim berobat.

Huuufh (sejenak menghela nafas), kok bisa RS yang baru dibangun dengan konsep modern, bisa mengabaikan hal yang sesederhana ini. Artinya, tidak adanya informasi yang menunjukkan alur atau tata cara berobat di RS tersebut. Jadi, kita sebagai masyarakat jadi bingun. Pusat informasi memang ada, tapi hal sesederhana ini saya tidak perlu kita bertanya ke pusat informasi dan orang di pusat informasi juga tidak perlu ribet menjawab setiap kali orang bertanya dengan pertanyaan hal yang sama. Cukup dibuatkan gambaran atau informasi terkait alur berobat dengan cara umum, lewat BPJS, atau yang lainnya.

Hal lain, hal yang mendasar yang seharusnya mudah untuk didapatkan. Bebrapa waktu lalu, Kota Banjarmasin dipercaya untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXX Tingkat Provinsi Kalsel tahun 2017. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun, namun informasi dasar tidak bisa didapatkan.

Contohnya, sewaktu saya ingin membuat artikel terkait kegiatan MTQ tersebut, saya mencari logo MTQ, tetapi tidak dapat sampai sekarang. Logo tersebut ada, Cuma sudah terceta seperti yang ada di media cetak maupun spanduk atau baliho. Mungkin kalau meminta ke panitia jelas ada.

Namun hal sesederhana ini, saya rasa tidak perlu ke panitia. Cukup panitia mengupload ke website atau situs terkait kemudian masyarakat bisa mencari dan mendownload dengan mudah. Ini sangat penting, terlebih bagi warganet yang ingin membantu memeriahkan, mempublikasikan, atau menggaukan hajatan tingkat provinsi yang digelar setiap tahun. Apalagi, gelaran MTQ ke 30 tersebut dibuat berbeda dari pelaksanaan sebelum-sebelumnya.

Inilah sebagian pengalaman yang saya alami, sesuatu yang simpel yang harusnya dapat dicari atau dilakukan lebih mudah, tapi bisa membuat bingun atau kecewa. Jadi menurut saya, untuk menjadi smart city, hal yang mendasar yang harus dilakukan adalah kepastian atau kemudahan pelayanan publik bagi masyarakat serta kepastian dan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi.

Sekarang eranya digital, eranya teknologi informasi. Bisa dikatakan setiap orang, khususnya generasi milenial sudah memiliki smartphone yang dengan smartphone tersebut dapat mencari informasi kapanpun dan dimanapun.

Selain itu, hal terpenting lainnya untuk menjadi smart city adalah siap untuk menerima segala sesuatu yang berbau teknologi. Seperti adanya layanan taksi online, belanja online, dan berbagai layanan jasa yang berbasis online. Di sini dibutuhkan peran pemerintah daerah untuk terus mengedukasi masyarakat, agar mau menerima dan terus berupaya untuk maju dan mengembangkan diri sebagai konsekuensi dari perkembangan zaman dan mampu bersaing. Selain itu, pemerintah daerah juga perlu membuat regulasi terkait layanan jasa online, yang sulit untuk ditolak dan dipredeksi akan terus ada dan akan terus bertambah. Dengan adanya payung hukum tersebut, para pengguna dan pemberi jasa memiliki keamanan dan kenyamanan dalam menjalaninya. Jadi, untuk menjadi Smart city, harus berorientasi kepada pelayanan yang mudah dan sederhana, serta kemudahan dalam mendapatkan informasi.
Oleh: Roniansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad