Kampungku - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 16 September 2016

Kampungku

Desa Cukan Lipai
Lebaran tahun 2016/1437 H, saya beserta keluarga kecil berlebaran di kampung halaman di Desa Cukan Lipai. Ada kerinduan tersendiri setelah lama tidak datang ke kampung halaman, apalagi dengan anak dan isteri.


28 tahun yang lalu saya lahir di sana, kemudian mengahabiskan hampir separuh umur saya di banua lain. Mulai dari sekolah di MA Darul Hijrah (4 tahun), Kuliah di IAIN (5 Tahun), dan sekarang bekerja dan membina keluarga kecil mulai dari di Banjarmasin dan sekarang di Martapura (-/+ 3 tahun).

Menempuh perjalanan yang cukup melelahkan di bawah teriknya matahari dan menjalani jauhnya jarak dari Martapura, membuat kami tidak kurang dari 4 kali berteduh atau singgah untuk istirahat. Tanpa terasa kurang lebih 5 jam perjalanan baru sampai ke tempat tujuan, berangkat jam 7 sampai jam 12.

Setibanya di perbatasan desa (dari arah Birayang), terlihaat pemandangan yang khas yang memperlihatkan salah satu sudut desaku. Tepat di depan, seolah-olah menanjaki gunung biru yang ada di depan yang begitu khas dengan puncaknya paling tinggi di antara gunung-gunung di sekitarnya. Tidak tau pasti apa nama gunung tersebut, saya menyangka itu adalah gunung Bamega di Kotabaru.
Gunung Janjar Pitu

Kemudian, di samping kiri juga ada pegunungan meratus, yaitu gunung Janjar Pitu (berjejer tujuh). Dinamakan janjar pitu, karena gunung-gunung tersebut berjejer sebanyak tujuh buah, pemandangan tersebut seolah memperlihatkan kedekatan, keakraban, maupun rasa persaudaraan yang begitu kental yang diperlihatkan oleh gunung-gunung tersebut.

Tidak hanya itu, di sebelah kanannya saya cukup terkejut, biasanya saya hanya melihat gunung dengan dua puncak yang merupakan gunung yang ada di Pagat yang menjadi view utama objek wisata Pagat. Kali ini saya melihat ada dua gunung, salah satunya memiliki puncak yang khas dan familiar, saya baru terpikir ternyata itu merupakan puncak salah satu gunung di Loksado yang sering dijadikan background dalam perjalanan bamboo rafting.

Seumur hidup saya baru kali ini melihat penampakan gunung tersebut. Sungguh luar biasa, kampungku berada di antara gunung-gunung yang indah yang merupakan bagian dari pegunungan meratus.

Jika berada di tempat ini, jangan kaget meski di siang hari, panas begitu terik dan menyengat, tetapi di pagi harinya kita akan merasakan begitu dinginnya udara. Hal ini membuat kita ingin terus berpelukan dengan guling (bagi yang jomblo).


Lebaran yang luar biasa yang memberi kesan. Namun saya sangat menyayangkan tidak bisa mengabadikan sudut keindahan kampungku, dengan kamera yang dimiliki tidak begitu puas dengan hasil yang direkam, tidak sehebat lensa mata yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, saya mencoba mengabadikannya dengan tulisan ini. Semoga apa yang telah dilihat oleh mata dan direkam dalam pikiran serta diabadiakan dengan tulisan ini, dapat menjadikan kampungku, kampung yang tetap indah, lestari dan memberikan kerinduan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad