Refleksi HAB Ke-70 Kementerian Agama RI - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Senin, 04 Januari 2016

Refleksi HAB Ke-70 Kementerian Agama RI

Hari Amal Bhakti Kementerian Agama RI diperingati setiap tanggal 3 Januari. Tanggal ini merupakan berdirinya Kementerian Agama, tepatnya pada Kamis, 3 Januari 1946 bertepatan dengan 29 Muharam 1364 Hijriyah, dengan Menteri Agama yang pertama almarhum Haji Mohammad Rasjidi.

Di tahun ini, sudah 70 tahun hari yang bersejarah ini diperingati. Ada beberapa pesan yang dapat saya ambil dari peringatan tahun ini, yang dikutip dari sambutan atau amanat Meneteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin.
1.  Eksistensi Kementerian Agama merefleksikan “hadirnya negara” untuk memberi jaminan terhadap kehidupan beragama dan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan untuk beribadat sesuai keyakinan yang dianutnya.

2.  Negara melalui Kementerian Agama, memfasilitasi pelayanan keagamaan bagi setiap warga negara secara adil dan proporsional, seperti pelayanan pencatatan nikah, talak dan rujuk, termasuk pada waktu itu peradilan agama, selain itu penerangan agama, pendidikan agama, pelayanan ibadah haji serta pembinaan kerukunan antar-umat beragama.
3.  Melalui peringatan ini, kita diajak untuk bersama-sama mewujudkan supremasi (kekuasaan tertinggi) nilai-nilai ke-Tuhanan dan keagamaan sebagai spirit pembangunan bangsa yang tidak dapat tergantikan. Dengan begitu, segala tindakan, perbuatan dan kinerja kita senantiasa ingat kepada Tuhan melalui ajaran Agama.
4.  Dari tema yang diangkat dalam peringatan ini, yaitu “Meneguhkan Revolusi Mental untuk Kementerian Agama yang Bersih dan Melayani”. Tema yang sangat sederhana, kata-kata yang digunakan sangat dikenal dan mudah dipahamai, yaitu bersih dan melayani dengan meneguhkan Revolusi Mental yang menjadi simbol pemerintahan dan pembangunan bangsa di masa sekarang, dengan menekankan Integritas, Etos Kerja dan Gotong Royong.
5.  Dari tema tersebut, kita dapat melihat adanya keinginan untuk sebuah “Perubahan”. Perubahan harus dilakukan dengan membangun sistem, sebagaimana ungkapan bijak menyatakan, “Dalam sistem yang baik, orang yang tidak baik menjadi orang baik. Tapi dalam sistem yang buruk, orang yang baik bisa menjadi tidak baik.”
6.  Sama seperti apa yang disampaiakn sebelumnya, Menteri Agama juga menekankan dan mengingatkan lima nilai budaya kerja Kementerian Agama, yaitu Integritas, Profesionalitas, Inovatif, Tanggung Jawab dan Keteladanan.
7.  Hal ini penting sebagai wujud Reformasi Birokrasi, bukan saja untuk meminimalisir penyimpangan dan malpraktik birokrasi, tetapi sekaligus untuk menciptakan lingkungan positif bagi setiap orang, untuk berkarya dan berprestasi sesuai bidang dan kompetensinya. Birokrasi dituntut untuk berpikir out of the box serta melakukan perubahan guna meraih kebaikan dan kemaslahatan yang lebih luas.
8.  Selanjutnya, saya tertarik dengan Kemenag sebagai institusi yang membawa nama “agama”, orientasi kerja sebagai pejabat dan aparatur Kementerian Agama haruslah mencerminkan kemuliaan agama. Mampu menjadi teladan dan contoh tentang kejujuran, sikap amanah, karakter dan perilaku baik di tengah masyarakat, di mana antara kata dan perbuatan haruslah sejalan. Selain itu, kita juga sebagai pribadi yang ber“agama” juga dapat merefleksikan nilai-nilai tersebut.
9.  Kita juga dapat melihat, fenomena liberalisme, materialisme dan ekstrimisme yang merasuk ke dalam tatanan kehidupan bangsa kita, harus dapat kita antisipasi, jika tidak diantisipasi bisa menjadi ancaman terhadap kehidupan beragama, ketenteraman keluarga dan stabilitas masyarakat.
10. Kementerian Agama memiliki visi yang mulia, yaitu “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas, dan sejahtera lahir batin dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.” Taat beragama adalah tujuan utama, dengan itu kita dapat rukun, meningkatkan kecerdasan dan mewujudkan kesjahteraan lahir batin.
11. Indonesia menjadi contoh bagi negara lain dalam mengelola kemajemukan. Di negara yang berdasarkan Pancasila ini, tidak ada diktator mayoritas dan tirani minoritas. Dalam kaitan itu, semua umat beragama dituntut untuk saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, di mana hak seseorang dibatasi oleh hak-hak orang lain.
12. Selain masalah “agama” saya juga tertarik dengan kesejahteraan masyarakat melalui pengaturan pengelolaan zakat, wakaf, pengelolaan dana haji serta potensi ekonomi keagamaan lainnya. Saya memimpikan, jika zakat saja misalnya dikelola dan diperuntukkan sesuai dengan aturan agama (Islam) seperti apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz, saya yakin kesejahteraan akan dapat terwujud, sistem ekonomipun akan berjalan dengan baik, tidak ada unsur ribawi, masyarakat dapat keluar dari tekanan kredit dan dapat bersyukur. Dalam pengelolaan zakat, saya menginginkan BAZNAS sebagai lembaga negara yang dipercaya untuk mengelola zakat, diisi oleh orang-orang yang profesional dan berintegritas.
13. Mulai tahun ini, kita juga akan menanti dan melihat terobosan atau program Kursus Pranikah. Hal ini sangat penting, karena menikah berkaitan erat dengan agama. Segala sesuatu dalam pernikan ada aturannya, mulai dari khitbah, akad, bergaul beserta ada-adabnya, hingga pasca bergaul (mandi wajib), jika tidak dilakukan berdasarkan agama (Islam) maka ibadah lainnya tidak sah dilakukan. Selain itu juga kita dapat bersama-sama mewujudkan keluarga yang berkualitas yang menentukan kualitas bangsa.

Ini adalah beberapa hal yang dapat saya refleksikan dari HAB ke-70 Kemenag RI. Semoga bermanfaat dan dapat jadi renungan kita bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad