Aturan untuk Apa? - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Kamis, 21 Januari 2016

Aturan untuk Apa?

Menarik melihat headline Banjarmasin Post Rabu, 20 Januari 2016 yang mengangkat berita tentang angkutan barang (truk besar/kecil) yang melintasi jalan protokol di Banjarmasin. Padahal ada aturan yang mengaturnya, yaitu Perwali No 18 Tahun 2009 tentang Batasan Truk Masuk Kota. Dalam aturan tersebut melarang truk dan pengangkut kontainer melintas pada jam-jam sibuk atau dari pagi hingga sore.

Pada kolom “tajuk” juga mengangkat tema yang sama dengan judul Menegakkan Benang Basah. Hal ini berdasarkan aturan yang dianggap “longgar” dan aturan yang dianggap bersifat ambigu sehingga susah untuk ditegakkan, diibaratkan seperti menegakkan benang basah. Dengan mengibaratkan seperti itu, saya melihat ketidakmampuan dalam menegakkan aturan yang ada. Jangankan menegakkan benang basah, benang keringpun sulit atau bahkan tidak bisa kita tegakkan.


Dalam tulisannya menyebutkan bahwa kesalahan bukan pada aturannya, melainkan oleh manusia pelakunya. Aturan sudah ada, pengawas ada, penegaknyapun sudah ada. Truk atau kontainer yang melintas pasti dilihat dan diketahui, terlebih melintasi pos Polisi maupun pos Dishub yang ada di pinggir jalan protokol. Hal ini berakibat aturan dalam pelaksanaannya seolah-olah “dilonggarkan” atau sengaja dibuat “longgar”. Jika terjadi demikian, aturan menjadi longgar.

Terkait aturan yang terkesan “longgar”, baik disengaja atau tidak. Saya pernah melihat, waktu terjadi krisis BBM ada aturan yang melarang untuk membeli BBM menggunakan jeriken di SPBU. Polisipun dikerahkan untuk menjaga SPBU atau mengawasi pelanggaran. Namun apa yang terjadi, selain antrean panjang saya juga melihat ada beberapa orang yang tetap membeli BBM dengan jeriken, namun jerikennya dimasukkan dalam tas atau dibungkus dengan karung. Padahal di sana ada polisi dan pastinya petugas SPBU yang lebih tahu dan jelas melihatnya.

Dengan dibungkus atau dimuat dalam tas, bahasanya tidak membeli dengan jeriken tetapi dengan karung atau tas jadi tidak melanggar atau termasuk pelanggaran dalam aturan, karena yang melanggar yang menggunakan jeriken. Padahal esensi aturan atau hukumnya tidaklah demikian, tetapi aturan ya tetap aturan. Selain itu, kita juga dilarang memuat atau membawa penumpang dengan mobil truck/pick up bak terbuka karena dianggap membahayakan bagi keselamatan. Tetapi apa yang kita lihat, mobil truk/pick up bak terbuka tersebut dipasang atap dengan terpal dan di sudut belakang dikasih kayu, dengan begitu mobil tersebut bisa dikatakan tidak termasuk mobil truck/pick up dengan bak terbuka yang dilarang, sehingga tidak melanggar dan tetap boleh melintas membawa/mengangkut penumpang.

Inilah yang terjadi, seolah-olah aturan tersebut “dikibuli”. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan dan kepentingan. Lalu aturan untuk apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad