RAMADHAN BUKAN DIHORMATI, TAPI DIMULIAKAN - Bingkai Banua

Breaking

Bingkai Banua

Inspirasi Untuk Banua

Post Top Ad

Post Top Ad

Selasa, 09 Juli 2013

RAMADHAN BUKAN DIHORMATI, TAPI DIMULIAKAN

Alhamdulillah segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat allah swt, karena dalam waktu dekat ini kita diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan, Bulan penuh berkah, rahmah, dan ampunan.
Masyarakat di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia dan daerah kita Kalimantan Selatan, disibukkan dan diramaikan dengan persiapan menyambut datangnya Bulan tersebut. Mulai dari membersikan sarana dan tempat ibadah, seperti Masjid, Mushalla, atau Surau-surau. Belum lagi para pemerintah disibukkan dengan pengadaan pasar Ramadhan, yang dipersiapkan untuk memanjakan masyarakat dengan makanan dan masakan khas daerah masing-masing.

Sementara ormas-ormas disibukkan dengan seruan untuk menutup dan meniadakan THM, penutupan warung/restoran di siang hari, sesuai dengan perda yang diberlakukan. Sebagian ada yang mengancam untuk melakukan sweeping jika ada pelanggaran dan aparat tidak menindak pelanggaran tersebut. Alasan mereka cukup simpel, yaitu menghormati bulan Ramadahan dan umat muslim yang menjalankan ibadah di bulan tersebut, seperti puasa, taraweh, dan kegiatan lainnya.
Lain ormas lain program televisi, tontonan sekarang yang digandrungi oleh masyarakat, seperti sinetron dibungkus sedemikian rupa dengan mengangkat sisi ‘islami’, baik dari kisah, pakaian, dan kebiasaan orang muslim secara umum. Hampir di seluruh stasiun televisi menyajikan sinetron tersebut, belum lagi acara khusus sahur yang kebanyakan diisi dengan lawakan banyolan. Kita akan dimanjakan dengan acara tersebut selama sebulan penuh, bahakan jika ratting baik maka akan berlanjut ke hari berikutnya.
Ada yang cukup menggelitik hati saya, khususnya dari kalangan selebritis. Ada sebagian selebritis yang non muslim memiliki peran utama dalam sinetron yang bernuansa rilegi Islam. Apakah kita tidak mempunyai aktris/aktor yang keyakinannya sesuai dengan sinetronnya. Terus dari kalangan penyanyi/musisi juga diramaikan dengan lagu-lagu bernuansa rilegi islami, dan mereka akan tampil beda dengan balutan kerudung yang modis (khusus penyanyi wanita), sementara yang lainnya dihiasi dengan sorban. Jika ditanya kenapa, mereka menjawab dengan nada yang lugu, yaitu ‘menghormati’ bulan ramadhan. Jika nonmuslim wajar, jika orang tersebut muslim maka patut dipertanyakan kenapa “menghormati”. 

Kita sebagai umat muslim harus bersyukur dengan adanya bulan ramadhan ini, karena diberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan memperbanyak ibadah baik wajib maupun sunnah, memperbanyak ampunan, dan berbuat baik terhadap sesama baik dilingkungan kerja, sosial, maupun masayarakat. Karena di bulan ini, pahala kita akan dilipatgandakan. Dengan begitu kita dapat berharap keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, terus meningkat dan istiqamah. Serta keridhaan dan keberkahan selalu diberikanNya kepada kita.
Jika kita paham tentang makna, kedudukan dan manfaat, serta kelebihan bulan Ramadhan, sudah semestinya kita sebagai umat muslim senantiasa memuliakannya bukan menghormatinya. Tanpa dihormati bulan tersebut sudah terhormat bahkan mulia. Dengan kesadaran tersebut, warung makan/restoran akan ditutup dengan sendirinya, kemudian ada tidaknya THM juga tidak masalah karena kita tidak memerlukan itu, dibilang mengganggu juga tidak, ya layaknya seperti hari-hari biasa apakah kita terganggu dalam melaksanakan ibadah kita?
Sedikit berandai-andai, jika ditiadakan sementara pelanggan THM memerlukan itu, maka dikhawatirkan mereka akan berbuat kemaksiatan/kejahatan di tengah-tengah masayarakat, dan ini dapat mengganggu kita. Anggaplah itu sebagai godaan dari kewajiban kita sebagai hamba yang lemah. Namun saya sedikit menyarankan khususnya kepada pemerintah yang mempunyai kendali penuh, khusus di bulan Ramadhan jam operasional THM (yang memiliki ijin) diperlambat buka dan dipercepat tutup, juga bagi warung/restoran yang melayani tamu nonmuslim agar dapat dispensasi (tempat khusus, seperti hotel berbintang, dsj), sebagai wujud toleransi antar umat beragama. Dengan begitu kita dapat menjalankan kehidupan/kegiatan di bulan ramadhan dengan penuh damai tanpa diskriminasi dan kriminalisasi.

Jadi muliakanlah Bulan Ramadhan dengan segenap keimanan yang kita miliki, jangan cuma dihormati. Itulah kewajiban kita sebagai umat muslim dan hamba yang lemah.



foto 1 dan 4 by: bersihkan-hati.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad